September 28, 2008

”Lelaki Buaya Darat” dan ”Wanita Racun Dunia”


Seni, satu kata yang tidak mudah untuk didefinisikan. Secara sederhana seni dapat ditafsirkan sebagai suatu bentuk eksploitasi terhadap sebuah bahan mentah berupa; kata pada seni sastra, bunyi pada seni musik, gerak pada tari dan teater,atau warna pada seni lukis. Seni merupakan sebuah ruang tanpa batas dengan otoritas sendiri demi menjamin kebebasan para penikmat seni untuk berekspresi. Dan dengan kebebasannya seni mampu mengungkapkan apa-apa yang tidak mungkin diungkapkan secara verbal dan seni mempunyai kekutan yang luar biasa untuk mempengaruhi pola-pikir suatu peradaban. Lalu seperti apa sebuah karya seni yang baik dan berkualitas? secara sederhana, menurut pengertian diatas, akan terjawab dengan pertanyaan ”sejauh mana seorang seniman mampu mengeksploitasi bahan mentah yang dia punya?”.

Jauh melebihi pengertian itu sekelompok filsuf dari zamannya berpendapat bahwa seni merupakan representasi zaman, dalam sebuah karya seni kita mendapatkan pencitraan mengenai kondisi sosial-kemasyarakatan, seni juga merupakan sebuah kritik terhadap zaman. Ini menggambarkan bahwa seorang seniman seharusnya memiliki kualitas intelektual yang baik, bahkan pada zamannya strata sosial seorang penyair ada pada tataran yang sama dengan para cendekia dan bangsawan. Adanya karya-karya seni berkualitas juga tak akan pernah lepas dari kondisi sosial. Lihat zamannya Shakespeare, ketika semua orang benar-benar menikmati drama komedi seperti Much Ado About Nothing sebagai sebuah hiburan rakyat, satu sisi itu menggambarkan kesahajaan dan kesejahteraan masyarakat zaman itu yang benar-benar mampu menikmati karya seni, mereka tak lagi memikirkan perut! Tapi Shakespeare lebih banyak mendapat pujian pada drama bergenre tragedy seperti Othello atau Romeo and Juliet, Karena melalui genre ini Shakespeare secara lebih verbal menyadarkan audience kalau masih ada diskriminasi terhadap moor (kulit hitam) atau kisah cinta berakhir tragis karena ”dua keluarga” yang merupakan bebuyutan. Beethoven dan Mozart dengan musiknya mampu menumbuhkan semangat, rasa yang terpendam dan memberi ketenangan di saat perang berkecamuk. Dalam tataran ini maka definisi seni adalah unconcious wishes, harapan-harapan yang tidak disadari namun secara sengaja atau tidak sengaja tertuang dalam karya.

Kita tinggalkan mereka, terlalu jauh, bahkan sudah mati. Iwan Fals pada 1999 didaulat sebagai pajangan sampul depan majalah Times Asia dengan sebuah tulisan besar Asian Heroes. ”Wah” jika kita melihat biografinya yang mantan pengamen, lalu kenapa Asian Heroes? Kenapa Iwan Fals? Times menjawab; ”karena dengan caranya dia berbicara ketika orang tidak sanggup bicara, karena dia melawan musuh yang tak terlihat olehnya” (kurang lebih begitu saya sudah lupa redaksionalnya). Lihat cara Iwan menyadarkan orang yang tengah dalam jamuan pesta makan malam kalau masih ada orang lapar, lihat bagaimana sopannya Iwan mengungkapkan cinta dan memuja pada orang yang disayangnya, lihat dia mendidik anak-anaknya untuk tidak menjadi pengecut lewat syairnya, lihat juga dia sedang menggugah nasionalisme, kesalehan mengarungi hidup, kesalehan dalam berpolitik. Ketika Iwan dimintai tanggapannya tentang penobatannya oleh Times ; ”Asian hero?” dia jawab dengan pertanyaan ”Maksudnya apa...?” itulah ungkapan seni ”Jujur!”

Saya juga ikut menangis mendengar rintihan Ebiet untuk bapaknya, saya tersadar kalau saya sering lupa kalau saya makhluk bertuhan, dia mengingatkan pentingnya menjaga habluminallah dan habluminanaas.--

-----------

Lalu saya mendengar orang-orang seusia saya berteriak ”ini musik pembebasan!”. Saya dengar jeritan musik memekakkan telinga, saya dengar lirik-lirik vulgar dengan diksi terendah menggambarkan rendahnya kapasitas intelektual mereka, saya lihat goyangan-goyangan yang...sungguh, saya akan jitak kepala ponakan dan adik saya kalau mereka ikut menonton! Saya lihat tayangan televisi yang benar-benar menjual khayalan dengan decorum* tingkat tinggi, mana ada kerajaan Majapahit di dalam bangunan mirip whitehouse-nya Amerika dan baginda rajanya berjalan-jalan dengan mercedez-benz! Sampah! Inikah realitas seni Indonesia hari ini?

Tahu apa mereka tentang pembebasan? Hari ini semuanya memang sudah bebas, tidak ada lagi larangan untuk bicara ini dan itu, bahkan itu hak azazi, katanya. Tidak seperti Iwan tadi yang tetap merdeka dalam musik dan liriknya meski dunia luar memberi ruang yang sangat sempit untuk berkarya tapi ruang imajinya seakan memiliki ribuan rongga yang sangat lapang untuk tetap berkarya. Ideologi pembebasan, bagi saya hanya bungkusan untuk menutupi segala keterbatasan mereka, dan mungkin juga marketing strategy...

Tapi yang lebih membuat saya heran, di saat semuanya telah digaransi kebebasan kenapa malah tak ada yang berani bicara jujur. Kenapa yang muncul malah tema-tema lenje dan latah? Satu lagu sukses di pasaran dengan tema selingkuh besoknya kios kaset dibanjiri lagu-lagu bertema sama, cinta dan selingkuh. Saya tidak membicarakan cinta sebagai tema yang buruk, sebaliknya saya percaya cinta merupakan sebuah kekuatan dahsyat yang dianugerahkan pada manusia untuk dapat saling menghargai, bukan sebuah lantunan kaum lemah yang putus-asa sebelum gantung diri. Saya takut mengasumsikan ini adalah representasi bangsa pada saat ini, kalau memang inilah seni itu hari ini.

Saya juga dengar lirik-lirik lagu yang jauh dari ”ketimuran”. Saya tidak tahu apa yang anda pikirkan ketika mendengar ”Lelaki buaya darat” atau ”Wanita Racun Dunia” . Karena saya sungguh bingung melihat apresiasi yang luar biasa untuk dua lagu tersebut, orang-orang menikmati, lelaki dan wanita ikut bernyanyi. Apakah mereka tidak pernah dilahirkan ibu? Atau jangan-jangan ibu mereka bukan seorang wanita? Kenapa tidak ada rasa hormat sedikitpun dalam lagu tersebut Apakah mereka tidak punya bapak, jangan-jangan bapak mereka bukan lelaki? Bagaimana saya bisa menikmati karya tersebut kalau saya sadar orang-orang yang saya hormati sedang dikata-katai. Sementara saya juga tahu kalau karya seni pada dasarnya adalah untuk dinikmati. Kalau memang itu adalah seni, itu adalah representasi bangsa hari ini. Bangsa hari ini adalah bangsa yang lenje dan bangsa yang durhaka. (maaf saya memang agak emosional pada paragraf ini).

Terlalu muluk rasanya hari ini saya menginginkan orang Indonesia untuk menghargai seni tradisi dan klasik, seperti turis mancanegara yang takjub menonton tari kecak, atau tenang jiwanya setelah mendengar angklung atau saluang, atau bergelora nasionalismenya setelah membaca sastra angkatan balai pustaka. Jujur, saya juga tidak suka keroncong atau menonton randai karena durasinya terlalu lama. Tapi yang harus kita sadari setiap seni berkualitas mempunyai sesuatu untuk disampaikan walaupun pada akhirnya pesan yang akan disampaikan tersebut juga merdeka untuk ditafsirkan. Seniman bukan orang-orang bodoh dan bukan banci yang bisu, tuli dan hanya ikut arus zaman. Jangan lecehkan mereka dengan memberikan pujian berlebihan bagi setiap karya yang tidak mewakili. Sanjung mereka dengan kritikan yang bertanggung jawab.


* istilah dalam sastra untuk unsur-unsur cerita (setting,plot,tema,karakter,musik) yang tidak pada tempatnya.

0 komentar: